Sikap dan Cara Doa / Sembayang Yang Benar dan Salah Menurut Firman Allah

11 07 2011

Setiap keyakinan memiliki sikap dan cara doa atau sembayang yang berbeda. Salah satu perbedaan yang besar antara ajaran Islam dengan Kristianiti adalah di dalam sikap dan cara berdoa. Dalam Islam, membersihkan tubuh sebelum sembayang adalah fital, tidak dapat diabaikan, namun dalam keyakinan Kristianiti yang fital adalah pembersihan hati dan pikiran. Perbedaan besar lainnya antara kedua keyakinan ini adalah arah sembayang (kiblat), Muslim atau orang Islam harus mengarahkan wajahnya ke Arab Saudi dimana Kabah berada,  tetapi sebaliknya arah sembayang tidaklah keharusan, bahkan tidak perlu sama sekali. Waktu sembayang juga memiliki peredaan besar di antara keduanya. Mengapa begitu berbeda, bukankah Allah itu Esa?, bukankah Muslim dan Kristen menyembah Allah yang sama, yakni Allah pencipta alam semesta, yang telah menciptakan manusia, binatang di udara, darat dan laut? Apa yang membuat sikap dan cara orang Kristen  berbeda dengan orang Islam? Di bawah ini adalah beberapa penyebabnya.

Allah adalah Roh Yang Mahahadir. 

Raja Daud pada kitab Mazmurnya (Zabur) berkata kepada Allah: Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.  (Mazmur 139:7-8)

Daud telah mengetahui bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah Yang Mahahadir, demikian juga Salomo, anak raja Daud: Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.  (Amsal 15:3). Isa al-Masih berbicara tentang Allah dan tempat sembayang kepada wanita Samaria; Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”  (Yohanes 4:21, 24). Yerusalem adalah tempat Bait Allah I (pertama), dan ketika Isa berbicara kepada wanita Samaria ini Bait Allah II (kedua) masih berdiri, Ia dengan jelas berkata “barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. ” arah dan kota tempat sembayang tidak penting. Di Yerusalem baru yang akan turun dari sorga  (Wahyu 3:12) sekalipun tidak ada bait Allah, sebab bait Allah yang sesungguhnya adalah jemaat Allah. Inilah alasannya mengapa orang Kristen tidak memiliki aturan waktu dan arah sembayang, sebab Allah ada dimana-mana dan hadir pada segala waktu.

Untuk mengerti kemahahadiran Allah, baca naskah kotbah John Wesley ini: On the Omnipresence of God by John Wesley

Allah mengutamakan sikap hati yang benar saat kita sembayang.

Doa atau sembayang bukanlah sekedar ucapan kata-kata seorang beriman kepada penciptanya, lebih dalam dari itu ialah manusia menyembah dan berkomunikasi dengan penciptanya. Jadi fokus sembayang orang beriman bukanlah untuk menarik perhatian manusia, tetapi penciptannya sendiri, yakni Allah Yang Mahaesa, orang Kristen mengenal nama-Nya sebagai YAHWEH.

Isa al-Masih telah mengajar apa yang harus orang beriman doakan pada Doa Bapa Kami, lebih lagi Ia mengajar bagaimana sikap hati kita seharusnya saat menghampiri Allah sembahan kita tersebut, ini dapat dilihat pada Injil Matius pasal 6:5-7, tertulis sebagai berikut:

  • 5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
  • 6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
  •  7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Contoh doa yang singkat dan padat dapat dilihat pada ayat 9-13, dikenal sebagai Doa Bapa Kami.
  • Sikap rendah hati dan bersedia berdamai, yakni mengampuni dan memohon ampun kepada Allah dan sesama juga bagian dari penyembahan yang benar (Matius 6:14-15; dan 5:24).

 

Pendalaman Alkitab 4 Muslim

Hak Cipta: Budiman

pa4muslim@gmail.com

Diluar tujuan komersial, Anda dipersilahkan mengkopy, memperbanyak dan juga memakai artikel ini  dengan menyertakan alamat situsnya. Terima kasih.





Doa / Sembayang Yang Diajarkan Isa Al-Masih: Doa Bapa Kami

8 07 2011

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, seperti Yohanes juga mengajar murid-muridnya.” (Lukas 11:1)*

Doa di bawah ini adalah doa yang diajar Isa al-Masih kepada murid-murid-Nya, doa ini dikenal sebagai ”Doa Bapa Kami”

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 

datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

dan janganlah biarkan kami masuk ke dalam pencobaan,** tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. Matius 6:9-13

Penjelasan ”Doa Bapa Kami:”

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,  Pujian dan pengagungan adalah langkah pertama untuk mendekati pintu gerbang sorga. Isa al-Masih mengajar murid-murid-Nya untuk memanggil Allah (Elohim; bahasa Ibrani) dengan sebutan Bapa (Abba; bahasa Ibrani). sebagaimana Isa sendiri memanggil-Nya – suatu hubungan yang intim dan hormat dalam sebuah keluarga. Di sorga; membedakan Allah dengan para ”bapa,” ”abba,” ”father” yang hidup di bumi (Matius 23:9). Nama Allah Bapa adalah YAHWEH (YHWH; tertulis pada Alkitab Ibrani), TUHAN atau LORD (ADONAI; Ibrani) adalah samaran dari nama-Nya yang kudus tersebut.

datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.  Pengakuan kesepakatan hati dan pikiran kita dengan kehendak Bapa Sorgawi adalah langkah kedua. Pengakuan ini akan membawa kita kepada permohonan doa yang sesuai dengan rencana-Nya dan karakter-Nya; akan menghasilkan permohonan doa yang tidak egois, selfpity dan penuduhan kepada orang lain; tetapi sebaliknya doa-doa yang merubah hidup si pendoa untuk siap dipakai menjadi utusan-utusan-Nya di bumi.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya;  Langkah ketiga dan seterusnya adalah permohon doa. Bapa di sorga adalah Allah yang Mahatahu, kenapa kita perlu berdoa? Doa adalah suatu komunikasi, Isa mengajar umat Allah bahwa mereka adalah anak-anak-Nya, mereka bukanlah robot (bergerak sesuai perintah yang telah ditakdirkan oleh pembuat program), anak bisa meminta apa yang ia perlukan. Secukupnya, cukup untuk hari ini (daily bread); 1. setiap hari kita perlu berdoa. 2. Roh tamak dan kesombongan dijauhkan dari umat-Nya.

dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;  Isa mengajar kita untuk sadar, bahwa kita memerlukan belas kasihan Bapa di sorga untuk meggampuni kesalahan kita (disengaja maupun tidak disengaja). Kesadaran ini akan menolong kita terjebak dari kesombongan. Seperti kami, Isa menekankan PENTINGNYA mengampuni kesalahan orang lain, pada ayat 14 dan 15 Ia menjelaskan bahwa kesalahan kita tidak akan terhapus di mata Bapa di sorga JIKA kita tidak terlebih dahulu mengampuni orang lain.

dan janganlah biarkan kami masuk ke dalam pencobaan,** tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.  Isa dilain tempat berkata:Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Markus 14:38). Inilah yang Isa maksud dengan ajaran doa-Nya ini, bahwa kita perlu meminta kepada Bapa kekuatan untuk kita dapat berjaga-jaga dan menguasai keinginan hawa napsu daging kita; jika kita sudah terjebak dan jatuh di dalam percobaan itu, mintalah Bapa untuk melepaskan kita.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.  Doa ini ditutup dengan suatu deklarasi iman jawaban doa (untuk si pendoa sendiri) bahwa doanya pasti terjawab, sebab segala sesuatu di bawah kuasa Bapa dan pemerintahan-Nya dan pujian syukur kepada Dia yang bertahkta di sorga. Amin, kata penutup doa yang berarti: ”Sungguh, jadilah demikian!”

* Indonesia Terjemahan Baru (ITB) menulis: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Beberapa murid Isa adalah bekas murid Yohanes Pembaptis, ia tentu sudah tahu ”doa cara Yohanes,” sebab itu ia ingin diajar ”doa cara Isa (Yesus).” Terjemahan Lama (ITL) sebagaimana tertulis di atas lebih tepat, dan sama dengan semua terjemahan Inggrisnya.

** Lamsa Tranlation (LT): And do not let us enter into temptation. LT adalah terjemahan yang berdasarkan Alkitab bahasa Aram. Yakobus 1:13 ”Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”

Pendalaman Alkitab 4 Muslim
Hak Cipta: Budiman
pa4muslim@gmail.com

Diluar tujuan komersial, Anda dipersilahkan mengkopy, memperbanyak dan juga memakai artikel ini  dengan menyertakan alamat situsnya. Terima kasih.