Pemerintah Sipil dalam Pandangan Yudeo-Kristen. Bagian Ke-dua

12 02 2017

rakyat-aktiv-dalam-setiap-masalah-pemerintahan-sipil

Rakyat perduli masalah Pemerintahan Sipil = Negara Sehat dan Kuat

Pada Bagian Pertama, kita telah belajar bagaimana Allah melihat pemerintahan negara di bumi dan bagaimana Dia sendiri terlibat di dalam seluruh proses naik dan turunnya para penguasa negara. Allah sangat positif dengan pemimpin negara, Dia menolong mereka dan memanggilnya: ”hamba-hamba-Ku” untuk menggenapi rencana-Nya di bumi. Pada bagian dua kita akan belajar Firman-Nya bagaimana seharusnya rakyat memandang dan berinteraksi dengan Pemerintah Sipil.

Pada bagian ke-dua ini kita akan belajar

  1. Batasan kekuasaan pemerintah negara dengan pemerintah Gereja
  2. Bagaimana seharusnya umat Allah berinteraksi dan memandang pemimpin negara (baik raja maupun Pemerintah Sipil) mereka.

Sasaran:

  1. Menghindari tumpang tindih dan saling menyalahi antara kekuatan politik dan kekuatan kerohanian / keagamaan
  2. Menolong masyarakat sebagai umat Allah untuk menyadari pentingnya menopang dan menghormati penguasa negara
  3. Menciptakan negara yang sehat dan bangsa yang makmur secara jasmani dan rohani

Dua kalimat Isa al-Masih yang penting untuk diingat:

  • “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia,” (Yohanes 9:5),
  • “Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:14,16).

Pokok pemikiran dari Pendalaman Alkitab ini, adalah, saya ulang kembali:

Setiap orang yang percaya kepada Bapa sorgawi adalah terang bagi sekitarnya, dan Pemerintahan Sipil adalah sebuah institusi resmi-Nya di bumi untuk memancarkan terang dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, sama seperti panggilan bagi Gereja-Nya di dalam kehidupan sesama orang beriman. Selama masih ada planet matahari, Pemerintahan Sipil, sebagaimana juga dengan Gereja, adalah institusi resmi Kerajaan Sorga yang tidak boleh diabaikan. Keduanya saling membutuhkan.

 I. Fungsi dan batasan-batasan pengaruh Pemerintahan Sipil dalam Masyarakat

John Calvin (10 Juli 1509 –  27 Mei 1664) membagi pemerintahan Allah YAHWEH atas seluruh ciptaan-Nya kedalam tiga institusi:

  • Kekuasaan dalam Pemerintah Sipil,
  • Kekuasaan dalam Kemasyarakatan (sosial) dan
  • Kekuasaan dalam Gereja / Agama

1. Fungsi kekuasaan Pemerintahan Sipil. Calvin melukiskan itu sebagai:

“Namun pemerintahan sipil memiliki sebagaimana akhir penetapannya, selama kita hidup di antara manusia, untuk menyesuaikan kehidupan kita ke masyarakat, untuk membentuk kelakuan sosial kita ke masyarakat yang baik, untuk memperdamaikan kita dengan satu sama lain, dan untuk mempromosikan dan mendorong kedamaian yang umum dan ketenangan.”[1]

A. Sejarah Eropa Barat secara kasar. Pernyatan Calvin ini penting untuk dihayati dan dimengerti oleh negara berkembang dimanapun, termasuk Indonesia. Untuk kita bisa mengerti dengan benar point-point dari John Calvin ini, kita perlu mengerti terlebih dahulu kondisi Eropa Barat saat Calvin hidup.

Eropa Barat saat Calvin hidup sama seperti kondisi negara-negara mayoritas pemeluk agama Islam di Asia, Afrika dan Timur Tengah saat ini, lemah dan penuh dengan peperangan. Abad 15 bisa dikatakan saat-saat terkelam negara-negara Eropa Barat; rakyat miskin lahir dan batin. Eropa Barat terpukul dari dalam dan luar. Di dalam, perang antar sesama negara Barat yang berkepanjangan; larangan beragama yang ketat kecuali agama Roma Katolik, dalam kehidupan sehari-hari, hukum agama Katolik adalah hukum negara Eropa Barat, sebab semua raja dikendalikan oleh paus melalui para kardinal dan uskupnya. Serangan dari luar tentara Islam telah menguasai banyak wilayah; di timur, di bawah kerajaan Turki Ottoman, Islam telah masuk sampai Hungaria, Moldova, dan di barat: Spanyol selatan dan Portugal, disebut Andalusia. Wilayah kekuasaan penuh Gereja Roma (the Holy Roman Empire) saat itu meliputi Belanda, Swiss, Itali Barat, Austria, Czechoslovakia dan Jerman. Paus memakai alasan keagamaan ”Perang Salib,” untuk mengutus tentara Gereja Roma, ”Crusaders” memerangi semua kerajaan yang tidak tunduk kepadanya demi menjaga dan memperluas wilayah kekuasaan. ”Perang Salib” ini terjadi lebih dari 170 tahun (1096-1270) dalam 7 gelombang perang.[2] Penguasa Gereja Roma memakai cara yang sama untuk memaksa orang masuk agamanya, seperti para Sultan lakukan, yaitu melalui pedang, ditambah aniaya berat ”inkuisisi” dan dibakar hidup-hidup. Yahudi, Kristen, Muslim terbunuh. John Fox mencatat, orang Kristen saja yang terbunuh oleh tentara Gereja Roma mencapai 500 juta jiwa. Gereja Eropa Barat ini hanya berpikir tentang kekuasaan dan membangun gedung-gedung gereja. Akhirnya awal abad 16, perjuangan Gereja Kristen mendapat dukungan dari orang Gereja Roma, seperti Calvin, dan Luther. Ini yang melahirkan “Reformasi Gereja,” tahun ini Oktorber 2017 adalah perayaan 500 tahun Reformasi Gereja.

B. Rakyat adalah Masyarakat Majemuk.  John Kalvin memperingatkan bahwa sebuah negara adalah sebuah masyarakat majemuk baik secara ras, suku, budaya terlebih lagi keyakinan kepercayaan, karenanya diperlukan peranan pemimpin negara yang netral dan masyarakat mayoritas perlu menyesuaikan kehidupan mereka ke masyarakat yang majemuk tersebut. “Keadilan bagi seluruh rakyat” hanya bisa terjadi apabila pemimpin agama mayoritas tidak mencampuri keputusan Pemerintah. Itulah sebabnya Pemerintahan Sipil dihadirkan oleh YAHWEH, dengan perintah, Kemukakanlah dari suku-sukumu orang-orang yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman, maka aku akan mengangkat mereka menjadi kepala atas kamu.  (Kel. 1:13).  Israel sekalipun satu negara, tetapi memiliki 12 suku. Setiap suku memiliki hakim dan pemimpin suku, namun di dalam kehidupan bernegara, mereka harus hidup dalam aturan negara yang dibuat “untuk memperdamaikan kita dengan satu sama lain, dan … mendorong kedamaian yang umum dan ketenangan.”

Pada Pelajaran sebelumnya, di Bagian I, kita telah belajar bahwa  Allah Yang Mahabijak sejak pertama membentuk negara Israel, mandat-Nya kepada mereka melalui nabi Musa ialah bahwa negara haruslah beroperasi berdasarkan kemajemukan kekuasaan, mandat itu bahkan turun sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian yang bapa leluhur mereka Abraham, Ishak dan Yakub (Israel) pernah hidup sebelum imigrasi ke Mesir. Nabi Musa, sebagai pimpinan puncak tidak memiliki kuasa atas hidup siapa pun, ia hanya berfungsi menolong 12 “Majelis Hakim” dari masing-masing suku Israel; di Amerika Serikat ada 9 MH. Para Hakim pun berfungsi hanya sebagai Hakim, untuk menjaga perdamaian dan ketenangan masyarakat di dalam suku mereka masing-masing.

Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik.  (Amsal 29:12)

2. Kekuasaan Kemasyarakatan (sosial). Abraham Kuyper seorang intelektual Kristen dan Politikus Belanda,[3] pada kelas-kelas kuliahnya di sebuah universitas di Amerika Serikat tahun 1898, ia mendiskusikan implikasi-implikasi ajaran Calvin untuk dunia politik. Ia menggaungkan kembali keyakinan Calvin bahwa semua pemerintahan (dunia) adalah ditetapkan oleh Allah. Kuyper menerangkan bahwa semua manusia telah mewarisi dosa,[4] manusia tidak dapat memerintah atas manusia kecuali otoritasnya diberikan kepada dia oleh Allah.[5] Kuyper, berdasarkan ajaran Calvin, menerangkan perbedaan antara kekuasaan Pemerintah dengan ”bidang-bidang sosial” (social spheres): ”Bidang-bidang sosial pernikahan dan keluarga, bisnis, seni dan ilmu pengetahuan bukanlah produk Pemerintah, tetapi adalah fungsi-fungsi organik masyarakat dan karenanya mereka memerintah sendiri.”[6]

Di masa Calvin hidup, Paus mamakai raja-raja untuk melarang setiap ilmu pengetahuan yang berbeda dengan doktrin Gereja Roma Katolik. Buku-buku yang termasuk dilarang beredar dan dibaca adalah karya Nicholas Copernicus (1473 – 1543) dan Galileo Galilei (1564 – 1642)[7]

Sehingga Kuyper menyatakan, “Apa yang disebut ‘pemerintahan konstitusional,’ yang berusaha untuk lebih tegas mengatur hubungan mutual keduanya. Dan dalam perjuangan inilah Calvinisme adalah yang pertama bangkit berdiri (memperjuangkannya).”[8]

3. Kekuasaan Gereja / Agama. Calvin menyatakan tugas bagi para pemimpin Jemaat yang telah terpilih, ”Tugas-tugas mereka adalah untuk memproklamasikan Firman Allah dengan tujuan menginstruksi, memperingati, menasehati, dan menegur, baik di depan umum maupun pribadi, memberi sakramen-sakramen, dan untuk latihan disiplin persaudaraan bersama dengan para penatua atau delegasi.”

Calvin setuju perlunya Gereja menjalankan semua ibadah Kristen dan memproklamasikan berita Injil, sejauh itu tidak melanggar wilayah batas kekuasaan Pemerintah Negara (menjaga ketertiban dan kemakmuran bersama).

Mengingat bahwa “semua manusia telah mewarisi dosa,” itulah sebabnya hukum agama sebaik apapun dan seberapa pun tingginya jumlah mayoritas penganutnya tidaklah bisa dipakai sebagai dasar utama dalam Hukum Negara. “Bland-spot” keagamaan selalu hadir ketika “religious superiority” diproklamasikan tanpa kendali.

Pemaksaan keyakinan iman kepada kelompok lainnya (minoritas dan tidak berkuasa) dalam segala bentuk adalah cacat hukum negara melanggar ”Keadilan Hak Asasi Manusia yang bersifat universal” dan cacat hukum kemasyarakatan “Kasihilah sesamamu manusia.” Jika ini dipaksakan, negara akan mengulangi “Masa Kegelapan Eropa Barat” melalui ”Inkuisisi Abad Pertengahan” (Medieval Inquisition), dimulai awal abad 12 (tepatnya tahun 1184) dan berakhir di abad 19 Setelah Masehi.[9]

Saya bertanya kepada beberapa orang Muslim Jakarta, mahasiswa dan karyawan “Apakah kamu mau negara Indonesia menjadi negara Islam dimana Hukum Islam adalah azaz negaranya?” Jawaban mereka tidaklah mengejutkan saya, semua berkata, “Tidak bersedia!” Mengapa tidak, bukankah kamu Muslim yang taat? Jawaban yang umum yang mereka beri adalah:”Saya tidak ingin dipaksa oleh siapa pun dalam soal beribadah.” Itulah juga mengapa “ISIS” ditentang oleh mayoritas Muslim sedunia. Dan Pemerintah Negara Republik Islam Iran ditentang rakyatnya, sejak Ayatollah Khomeini menegakkan Syariah Islam di Iran, lebih dari sejuta Muslim telah meninggalkan Islam. Agama tidak bisa dipaksakan; Gereja Roma telah gagal, demikian juga Islam, semakin dipaksakan semakin mental ke luar.

Mengingat bahwa “semua manusia telah mewarisi dosa,” itulah sebabnya hukum agama sebaik apapun dan seberapa pun tingginya jumlah mayoritas penganutnya tidaklah bisa dipakai sebagai dasar utama dalam Hukum Negara.

karikatur-rakyat-amerika-tidak-aktiv-dalam-dunia-politik-dan-akibatnya

Masyarakat & Politik Amerika

Studi Kasus agama di Amerika Serikat.  Pemerintah Gedung Putih di bawah Presiden Obama membajak ajaran John Calvin ini untuk menindas kebebasan beribadah dan iman orang Kristen untuk tujuan politik dengan berkedok “membela kebebasan kelompok minoritas;” menekan penginjilan jalanan, melarang menyebut nama Yesus dan berdoa Kristen di gedung-gedung pendidikan, melarang ornamen Perayaan Natal di tempat umum, melarang persekutuan, sel-sel dan pendalaman Alkitab di rumah-rumah dan bahkan memberi surat tilang bagi mereka yang memberi makanan gratis kepada orang-orang yang miskin. Obama dan Hillary membuat citra Amerika rusak di dalam dan di luar negeri; itu terjadi akibat rakyat AS tidak perduli dengan masalah Politik Amerika, dan mereka harus menunggu 8 tahun lamanya untuk bisa menormalisasikan Hukum Negara mereka.

Tindakan sejenis inilah yang tepatnya telah terjadi di Eropa Barat sebelum Reformasi Gereja, dimana Paus memakai raja-raja dan para pangeran untuk menumpas Kristianiti. Hasil akhirnya adalah membuat Kristianiti semakin termasyur di Eropa dan bahkan menyebar ke Asia dan Afrika. Itulah juga yang membuat Donald Trump, seorang yang tidak memiliki pengalaman politik bisa mengalahkan 18 lawannya yang ahli politik.

Tuhan telah memberi kuasa baik Pemerintah negara maupun Gereja-Nya, dan Dia menjaga keduanya untuk hidup dan berfungsi sebagai ”hamba dan saksi-Nya” di bumi ini sampai Dia datang kembali untuk meminta tanggung jawab setiap manusia.

II. Kehidupan Jemaat Berkaitan Dengan Pemerintah Negara

1. Mentaati konstitusi negara. Isa al-Masih berkata kepada para pemimpin agama Yahudi perlunya setiap orang mentaati Pemerintah (sekalipun penjajah) Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia.  (Markus 12:17)

Rasul Paulus dalam suratnya kerasulannya kepada orang-orang Kristen di Roma, ia mengingatkan ”setiap orang” termasuk orang Kristen harus tunduk kepada penguasa pemerintah sipil. Perlu diingat, saat itu penguasa Roma adalah orang-orang yang tidak percaya Allah TUHAN, mereka menyembah banyak berhala dan bahkan membunuh banyak orang Kristen, namun sebagai warga Roma, mereka haruslah tunduk.

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.  (Romans 13:1). Paulus menambahkan, Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.  (ayat 2)

Ajaran ini berbeda dengan ajaran Islam. Agama Islam mengajar bahwa orang Islam tidak perlu tunduk kepada Pemerintahan Sipil manapun, kecuali jika dan hanya jika konstitusi dan hukum negara tersebut berdasarkan Hukum Islam atau Syariah Islam. Semakin pemimpin Islam menekankan prinsip Syariah Islam hasilnya adalah ketidak adilan dan lenyapnya kesejahteraan sebuah masyarakat dan negara, seperti yang kita lihat di banyak negara Timur Tengah dan Afrika Utara serta Asia (Afganistan, Pakistan, Turki, dan Indonesia akhir-akhir ini)

2. Mendukung Pemerintah melalui doa-doa kita. Karena aku para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan. Karena aku para pembesar berkuasa juga para bangsawan dan semua hakim di bumi.  (Amsal 8:15-16). Kata “aku” disini adalah Hikmat dan Pengetahuan TUHAN. Melalui doa-doa kita kepada Tuhan! Bagaimana para pembesara dan hakim di bumi – yang tidak mengenal TUHAN dan tidak membaca Firman-Nya – bisa menetapkan keadilan? Melalui doa-doa orang percaya! Target Setan yang terutama ialah menyerang pemimpin Negara untuk mengontrolnya; sebab jika ia berhasil mengontrol penguasa ia akan mengontrol seluruh rakyatnya. Jadi pemimpin negara dan aparatnya memerlukan dokungan doa kita.

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.  (Yeremiah 29:7), ini adalah Firman TUHAN melalui nabi Yeremiah untuk bangsa Israel yang di buang ke Babilonia. Kita akan lihat lebih dalam isi surat ini pada butir ke-3. Jelas sekali, TUHAN memakai raja kafir (penyembah berhala) ini dan memerintahkan umat-Nya Israel untuk kesejahteraan negara baru mereka. Sekitar 600 tahun kemudian, Rasul Paulus memerintahkan orang Kristen, melalui muridnya Timotius,[10] melakukan hal yang sama ketika berada di bawah jajahan Romawi: Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.  (1 Tim. 2:1-2)

Bagaimana para pembesara dan hakim di bumi – yang tidak mengenal TUHAN dan tidak membaca Firman-Nya – bisa menetapkan keadilan? Melalui doa-doa orang percaya!

Doa-doa kita untuk para raja (presiden) dan pembesar (pejabat negara) memegang peranan penting dalam sebuah negara. Rasul Paulus bahkan berkata bahwa ini adalah suatu kehendak Tuhan Yesus yang memiliki tujuan luhur:

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,  (ayat 3-5).

Itulah sebabnya ketika para rasul meminta Isa untuk mengajar mereka berdoa, Isa mengajar mereka Doa Bapa Kami: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.  (Matius 6:9-10). Visi ini untuk menggenapi nubuatan nabi Yesaya dan rasul Paulus[11]

3. Mendukung Pemerintah Sipil dengan pekerjaan baik kita. ”Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.  (Titus 3:1) Rasul Paulus melalui muridnya yang lain, Titus, kembali mengajar bagaimana orang beriman harus hidup di dalam sebuah negara. Paulus berkata, pekerjaan baik tersebut bukanlah untuk beroleh keselamatan kekal, sebab keselamatan adalah rahmat / anugerah Allah dan melalui pembaharuan hidup kita melalui Roh-Nya. (ayat 4-7)

Rasul Petrus mengajar: “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.  (1 Petrus 4:15-16)

Kembali kesurat Yeremia di atas, Allah TUHAN berkata untuk umat-Nya berhenti mengerutu dan ”doing-nothing” di negeri dimana mereka telah dibuang, Dia berkata ”Dirikan rumah, bikin kebun, ambil isteri dan menghasilkan anak-anak, ambilah mantu bagi mereka,” tujuannya: ”agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!” (Yer. 29:4-6)

4. Mendukung proses pemilihan umum. Demontrasi massal di Romania awal Pebuari 2017 akibat kelalaian umat Kristen sendiri,  seorang bapa asal Romania mengawali ceritanya. Pemerintah yang baru berkuasa ingin membuat hukum baru “korupsi (untuk jumlah uang tertentu) bukanlah kejahatan.” Ia berkata, “Pemerintah yang komunis ini berhasil memenangkan Pemilu oleh karena orang-orang Kristen tidak perduli dengan pemilu, mereka tidak memberi suara.” Setelah turun kejalan berhari-hari di cuaca yang dingin, mereka berhasil menggagalkan hukum baru tersebut dan kemudian memaksa Perdana Menteri tersebut turun dari jabatanya.

Kisah ini mengingatkan saya kejadian di Namibia, kisah yang ditulis oleh Landa Cope. ”Ketika para orang kulit hitam di Namibia diberikan pertama kali memberi suara di tahun 1994, mereka memilih seorang pemimpin yang adalah komunis, suatu pukulan besar di negara dimana lebih dari 85% mengaku orang Kristen.” Kesalahan tambahan, ketika “pemerintah baru ini meminta para pemimpin Gereja untuk mengajar mereka dasar-dasar pemerintahan yang alkitabiah, tidak ada satupun yang meresponi![12]

Landa, yang sering berkeliling Afrika dan juga guru dalam ilmu kemasyarakatan menyesalkan apa yang telah terjadi di Amerika, negaranya. Orang-orang pemerintah AS berkata kepada Landa bahwa “kurang dari 50% penduduk Amerika memberi suara. Lebih mengejutkan lagi, mereka berkata kurang dari 25% orang Kristen Amerika memberi suara.”[13]

KESIMPULAN:

  • John Calvin membagi kekuasaan institusi kedalam tiga bagian: PemerintahSipil, Kemasyarakatan (sosial) dan Gereja / Agama
  • Pemerintah Sipil sesuai tugasnya haruslah netral dan berfungsi membentuk kelakukan sosial rakyatnya untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat yang majemuk untuk mempromosikan dan mendorong kedamaian yang umum dan ketenangan
  • Kuyper, berdasarkan ajaran Calvin, masyarakat pun di luar kontek agama dan politik memiliki ruang-ruang kekuasaan (social spheres) tersendiri, seperti masalah pernikahan, keluarga, bisnis, seni dan ilmu pengetahuan.
  • Pemerintah Agama memiliki kebebasan melakukan hak-haknya, namun tidak boleh mengontrol Pemerintah Sipil untuk melakukan apa yang mereka imani.
  • Hukum agama sebaik apapun dan seberapa pun tingginya jumlah mayoritas penganutnya tidaklah bisa dipakai sebagai dasar utama dalam Hukum Negara, sebab itu akan melanggar ”Keadilan Hak Asasi Manusia yang bersifat universal” dan cacat hukum kemasyarakatan “Kasihilah sesamamu manusia.”
  • Pemaksaan Hukum Agama dalam kehidupan Sosial dan kehidupan kekusaan Sipil akan berakibat buruk bagi semua masyarakat, seperti telah terjadi di Eropa Barat sebelum  Reformasi Gereja dan di negara-negara Islam saat ini di banyak negara.
  • Negara yang kuat adalah negara dimana rakyatnya yang beriman aktif mendukung Pemerintah Sipil
  • Rakyat bisa mendukung Pemerintah Sipil melalui mentaati hukum negara, mendoakan para pejabat, hidup dan bekerja yang baik, dan aktif dalam proses Pemilu untuk memilih calon pemimpin yang bermoral, jujur dan siap melayani rakyat.

Bacaan yang direkomendasikan:

Catatan-kaki:

  1. John Calvin orang Perancis (10 Juli 1509 –  27 Mei 1564). Ayahnya bekerja sebagai seketaris uskup Katolik. Antara tahun 1533-1534, ia menjadi ”orang Protestan” dan pindah ke Basel, Swiss. Pernyataan Calvin pertama dari seri The Institutes of the Christian Religion yang ia terbitkan tahun 1536.
  2. DR. Ian Barnes, WORLD HISTORY, Eagel Edition Ltd, 2007
  3. Abraham Kuyper (29 Oktober 1837 – 8 November 1920);  karya dan tulisannya bisa dilihat di sini
  4. Beberapa ayat Alkitab menjelaskan siapa manusia dimata Allah TUHAN: Kejadian 6:12 Mazmur 14:1-6 & 53:1-3 (di ITB: 2-4); Pengkotbah 7:20; Roma 3:9-19;
  5. 2 Korintus 5:9-10
  6. Kuyper, Third Lecture, Calvinism And Politics
  7. Copernicus, Galileo, and the Church: Science in a Religious World
  8. Kuyper, Third Lecuture
  9. https://en.wikipedia.org/wiki/Inquisition
  10.  Lihat 1 Tim. 1:2-4
  11. Allah Bapa berkehendak ‘Putra-Nya’ menjadi Raja Adil di bumi.  ”Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa; (Yes. 55:4) dan “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (Kolose 1:16)
  12. Landa Cope, An Introduction To The OLD TESTAMENT TEMPLATE, (YWAM Publishing, 2011), hal 59-60
  13. Idem, hal 60

Pendalaman Alkitab 4 Muslim
Hak Cipta: Budiman
pa4muslim@gmail.com

Diluar tujuan komersial, Anda dipersilahkan mengkopy, memperbanyak dan juga memakai artikel ini  dengan menyertakan alamat situsnya. Terima kasih.

Advertisements

Actions

Information

Silahkan berkomentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: